Showing posts with label Culture Files. Show all posts
Showing posts with label Culture Files. Show all posts










Ada kata baru Kapitalis, baru? Ah tidak, tidak
Sudah lama kita dihisap
Bukan kata baru, bukan
Kita dibayar murah
Sudah lama, sudah lama
Sudah lama kita saksikan
Buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
Datang senjata sebataliyon
Kita dibungkam

Tapi tidak, tidak
Dia belum hilang kapitalis
Dia terus makan
Tetes ya tetes tetes keringat kita
Dia terus makan
Sekarang rasakan kembali jantung
Yang gelisah memukul-mukul marah
Karena darah dan otak jalan
Kapitalis
Dia hidup
Bahkan berhadap-hadapan
Kau aku buruh mereka kapitalis
Sama-sama hidup
Bertarung
Ya, bertarung

Sama-sama?
Tidak, tidak bisa
Kita tidak bisa bersama-sama
Sudah lama ya sejak mula
Kau aku tahu
Berapa harga lengan dan otot kau aku
Kau tahu berapa upahmu
Kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
Kau tahu berapa harga tenagamu
Mogoklah
Maka kau akan melihat
Dunia mereka
Jembatan ke dunia baru
Dunia baru ya dunia baru.
Cerita ini ditulis tadi malam, dimulai sekitar pukul satu dinihari, ketika sebagaian besar penduduk kaki bukit gunung Salak terlelap dalam pusaran mimpi. Di sini tak akan ditemukan ungkapan-ungkapan eksotik-romantik layaknya karya-karya sastra yang pernah ditulis oleh Gibran ataupun Tagore. Cerita ini hanya ingin menuturkan kembali peristiwa muram yang pernah dialami oleh seorang buruh perempuan, seperti orang-orang dalam sketsa hitam-putih Kathe Kollwitz, yang sepanjang hidupnya tengah berbincang dengan kemiskinan dan kematian.

Perempuan itu bernama Marni Sudharti. Ia lahir di Banjarnegara dan hingga lulus SMA masih tetap di Banjarnegara. Ia tak pernah ke mana-mana karena keburu dipinang oleh seorang laki-laki asal Wonosobo yang tubuhnya penuh dengan tato Jawa (alias panu). Tapi memang begitulah cinta, tulis Shakespeare, ia buta ..., tak bisa melihat realitas dengan jelas.

Dalam perjalanan hidupnya, tepatnya seusai perkawinannya, kemiskinan menderanya bertubi-tubi. Ibunya mati karena tak mampu berobat; bapaknya sakit-sakitan; anak semata wayangnya kini menderita penyakit kronis dan berulangkali tak sadarkan diri. Kabarnya pula, Paimo, suaminya, hari-hari ini jiwanya mulai kurang waras.

Tragis. Ini bukan lelucon. Dari sinilah Marni kemudian bertekad untuk bekerja menjadi buruh rumahtangga di luar negeri. “Gaji buruh di Indonesia hanya cukup untuk beli pulsa,” ucapnya. “Aku harus bekerja dan mendapatkan uang banyak; untuk beli rumah dan sepetak tanah; juga untuk mengobati penyakit Bapak, Genduk dan Kang Paimo!”

Mari kita mulai cerita ini. Malam itu ia baru saja menyelesaikan perkerjaan dapur; baru selesai menyiapkan sarapan untuk putra-putri sang majikan, David dan Elizabeth; menyiapkan sepatu, kemeja dan dasi sang tuan; menyiapkan baju kerja sang nyonya. Yach, hingga larut. Dan selalu begitu, pekerjaannya akan berakhir paling cepat jam sebelas malam.

Udara di negeri beton malam itu terasa lembab dan dingin. Gumpalan kabut terlihat perlahan-lahan membentuk tabir samar. Pagi masih jauh. Irama angin terperangkap di tepi. Segalanya seperti hendak berakhir. Tak ada satu percakapan pun yang terdengar.

Waktunya istirahat, pikir Marni. Sambil menunggu kedatangan si tuan dan si nyonya, ia ingin merebahkan tubuhnya di kasur, meluruskan kedua kakinya yang terasa bengkok. Baru saja masuk kamar untuk istirahat, suara ketukan pintu terdengar seperti klakson mobil polisi. Ia segera bergegas menghampiri suara itu dan membuka pintu. James Anderson—laki-laki jangkung tanpa kumis dan tanpa alis, asal Amerika, sang majikan—yang datang.
“Abominable!" ucap tuan Anderson.

Marni kembali masuk kamar. Ia sudah terbiasa dengan perangai si tuan. Tak heran, laki-laki Amerika memang selalu tampil sombong. Dan tak ada pilihan lain. Posisinya masih sangat butuh kerja dan uang. Ia tak bisa berharap pada suaminya yang miskin. Suaminya, Paimo, hanya seorang penggali pasir. Ia tak ingin pulang kampung tanpa uang, tanpa kebanggaan. Ia tak ingin bernasib seperti Marilah yang dihujani cemoohan oleh orang-orang.

Nyonya Anderson sebentar lagi pasti datang. Si nyonya akan bertingkah-laku sama dengan si tuan saat sudah berada di depan pintu: mengetuk pintu keras-keras seraya menggumal. Biasanya hanya selisih dua jam dengan suaminya. Posisinya bergantian. Kadang si nyonya yang terlebih dulu pulang, atau sebaliknya. Mereka jarang pulang bersama meskipun berangkatnya hampir tak pernah tak bersama. Lucu. Mungkin karena harus kerja lembur. Kabarnya si nyonya dan si tuan sedang mengelola pabrik sepatu, warisan dari orang tua si nyonya. Pabrik tersebut, kabarnya pula, sedang memperkerjakan sekitar lima ratus buruh. Mungkin faktor inilah yang membuatnya menjadi gila kerja, sering lembur, dan hobi sekali pulang larut malam.

David dan Elizabeth sudah tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Dua manusia kecil ini seperti kelinci: polos, lucu dan gampang tertidur.

Tepat prediksinya. Nyonya Anderson, Naomi Fang-Hua, perempuan berwajah bengis kelahiran Beijing 1970, berbadan gendut dan beralis tebal, sayup-sayup langkahnya mulai terdengar. Sebelum pintu diketuk keras oleh si nyonya, Marni segera berlari menuju pintu, meraih gagangnya dan membukanya.
“Oh, how stupid!” Sapaan kasar dari si nyonya.

Raut muka Marni langsung berubah pucat. Tubuhnya menggigil dingin. Ia segera masuk kamar dan menghalau segala kegundahan. Harus kuat, pikirnya. Ia ingin bisa membeli rumah dan menyekolahkan anaknya hingga SMA. Foto putri sematawayangnya, Marhaeni Gadis Bumi, digenggamnya erat-erat. Menjadi buruh rumahtangga memang tak ubahnya seperti budak, pikirnya lagi. Apalagi buruh rumahtangga di negeri orang. Keseluruhannya sudah menjadi milik sang majikan. Bekerja layaknya robot. Tak boleh sakit. Tak boleh salah.

Tiba-tiba Marni tak kuat lagi menahan aliran air matanya yang masih tersisa. Ia melemparkan dirinya ke tempat tidur dan menangis tersedu-sedu. Terasa pahit. Kebenciannya pada penindasan meningkat cepat. Segala macam ide absurd mendatangi pikirannya. Ia serasa mencium aroma busuk penjara. Ia merasa telah terlempar ke dalam sel; ke dalam ruangan dingin dan gelap dengan tikus-tikus yang tak sopan. Tapi siapa yang akan berdiri untuk membelanya?

Muhaimin terlalu tolol untuk mengurusi kasus-kasus ketenagakerjaan seperti ini. Organisasi-organisasi  buruh migran juga hanya sibuk membuat laporan untuk mendapatkan bantuan. Paimo, suaminya, apalagi. Paimo hanya bisa menggali pasir dan menjualnya dengan harga murah kepada para tengkulak pasir.

Marni semakin larut dalam pusaran kebingungan.
“Prakkk...!” Terdengar suara seseorang sedang membanting piring.
“Who is that?” Marni teriak bertanya.

Tak ada yang menyahut. Tak ada yang bersedia menggerakkan mulut. Mungkin kucing, pikir Marni. Tapi tak berselang lama, suara yang sama, suara piring dibanting, terulang kembali; disertai suara omelan seorang perempuan; siapa lagi kalau bukan suara omelan si nyonya.

“Ada apa ya dengan Nyonya...?” gerutu Marni.
Tampaknya pertengkaran tuan-nyonya meletus lagi, pikir Marni. Ia sudah siap-siap untuk menjadi tumbal sasaran. Tapi ia sudah kebal. Untung laki-laki Amerika itu, pikirnya, meskipun telinganya tinggi sebelah, mampu bersabar dengan omelan-omelan istrinya. Sehingga situasinya tak bertambah runyam.

Malam seakan bergerak cepat. Rasa kantuk mulai menyerang Marni dan nyaris tak dapat ditahan. Kabut tebal yang tadi membentuk gugusan terlihat olehnya dari balik jendela, perlahan-lahan membuyar. Marni terus terbayang-bayang wajah Marhaeni. Ia khawatir penyakit kronis putrinya akan menyebabkan.... “Oh, jangan...!”
“Aku tak akan kuat jika hal itu benar-benar terjadi,” ucapnya dalam hati.

Seketika ia teringat obrolannya dengan Sumilah, teman sekampungnya, saat menggelar aksi buruh migran di Victoria Park beberapa waktu lalu. “Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Mar...,” ucap Sumilah. “Kita harus kuat. Seperti kata buku panduan saat kita berada di pesawat terbang, jika ada apa-apa, sang ibu harus terlebih dulu menyelamatkan diri. Kamu adalah sang ibu dari seluruh keluargamu. Dan Kamu juga jangan berpikir untuk melakukan hal-hal nekat. Kamu masih untung, punya majikan yang gak terlalu kasar. Majikanmu masih punya ambang batas. Coba jika kamu punya majikan yang berperangai seperti majikannya Masruroh, wajah cantikmu pasti sudah dihiasi oleh goresan-goresan pisau!”

Ya, Victoria Park, tempat berhiburnya para buruh migran di setiap hari Minggu, telah menjadi tempat curhat Si Marni. Tetapi tempat itu tak hanya digunakan sebagai ajang curhat, mencari informasi, atau sekedar makan-makan bersama, tetapi sudah menjadi ‘markas’, bahkan sudah menjadi arena untuk mengorganisir perlawanan. Marni sangat menyukai tempat itu. Di situ ia menemukan teman dan perlawanan. Di situ pula, ia bisa aktif di dalam sebuah gerakan.

Tiba-tiba alarm yang ada di telpon genggamnya berbunyi, pertanda mau tak mau ia harus memejamkan mata, mempersiapkan kerja untuk esok pagi: melayani tuan-nyonya, memandikan David dan mencarikan baju untuk Elizabeth, kemudian mengantar mereka berdua hingga pintu sekolah. Tapi matanya seperti tak ingin terpejam. Ada yang masih tertinggal untuk dipikirkan. Ya, ternyata tentang bapaknya, Mbah Sanem. Rupanya ia sangat kawatir dengan kesehatan bapaknya. Mbah Sanem sudah berulangkali mati tetapi hidup kembali. Kata orang-orang, itu bukan mati, tetapi sekarat. Entahlah. Semoga masih bisa menemui Bapak saat pulang nanti, pikirnya. Bapak ingin sekali dibelikan sepetak tanah untuk kebanggaan. Sudah lama Bapak merasa menderita dan terhina. Bapak ingin menunjukkan kepada Haji Songeb, orang kaya di kampung yang tak pernah menghargainya, bahwa, meskipun lima dari enam anaknya tidak waras, paling tidak, masih ada satu anaknya yang waras dan bergelar ‘pahlawan devisa’.

“Jam satu. Cepat sekali!” ucapnya pada bantal berbentuk orang-orangan yang berbaring di sisinya. “Ayo tidur, Kawan!”
Belum selesai menata tubuhnya di tempat tidur, suara panggilan telpon terdengar kencang. Volumenya pasti dibuat maksimal.

“Halo ... assalamualaikum! Mar, Bapake wis ora nana...!”
Itu suara Paimo, suami Marni, laki-laki yang sepanjang hidupnya tak pernah bebas dari penyakit panu. Penyakitnya orang miskin. Penyakit yang menyukai tubuh-tubuh jarang mandi dan berkeringat.
“Bapake sapa, Kang...? Bapeke enyong wis ora nana...?” tegas Marni dengan suara tinggi.
“Marhaeni kepriben, Kang ... apa isih nang rumahsakit?”
Tak ada jawaban dari Paimo mengenai Si Marhaeni. Paimo hanya mengabarkan tentang mertuanya yang telah mati. Lalu bagiamana dengan Marhaeni, apakah ia semakin parah dan akan mati pula? Demikian pikir Marni.

Marni hampir pingsan. Pikirannya berkecamuk di putaran ritme malam yang hening. Tidak mungkin pulang. Tidak mungkin pula tidak pulang. Tapi uang dari mana. Baru saja seluruh uangnya dikirim ke kampung untuk pengobatan bapak dan anaknya; dan juga untuk melunasi hutang-hutangnya ke rentenir yang membiayainya pergi ke Hong Kong.

(Mungkin, saat seperti inilah, apa yang disebut oleh orang-orang sebagai “titik nol”. Segalanya lenyap. Keseluruhan realitas tiba-tiba menampakkan dirinya tak berarti. Pada akhirnya putus asa, bunuh diri; dan segera ingin menuju lembah “kedamaian” dengan mempercepat kematian. Tapi tunggu dulu, Marni! Ada baiknya sejenak mendengar celotehan ringan dari si dekil Dostoyevsky, sastrawan aneh berkebangsaan Rusia yang berkali-kali hampir mati: “Rasa sakit dan penderitaan akan menciptakan kecerdasan dan kehebatan....”).

Ya, ini titik kulminatif bagi Marni. Keseluruhan dirinya benar-benar zero. Seluruh memori kelam di masalalunya menyeruak, memadati pikirannya, membentuk gugusan padat dan mengeram. Ia terus teringat pada bapaknya. Ia menyesal tak bisa memenuhi janjinya untuk membelikan sepetak tanah. “Tak apa,” seru Marni, memenangkan pikirannya, “semoga di sana ada surga.” Tapi bagaimana dengan putri sematawayangnya?

Tak terasa, sudah hampir pagi. “Ohh, ini hari Minggu!” teriak Marni kesenangan. “Oh my God, hari ini ternyata aku bebas dari kerja. Ini hari untuk berkumpul di Victoria Park.”

Victoria Park pasti akan ramai dengan berita kematian Mbah Sanem dan kekhawatiran Marni atas nasib putrinya. Dan baru saja ia mendapat kabar dari Riyanti, teman dekatnya asal Madiun, bahwa hari ini buruh migran akan menggelar aksi protes kembali di depan kantor konsulat. Kabar ini pasti menggembirakan Marni di tengah-tengah kesedihannya yang tak terbatas. Ketepatan dalam aksi ini ia mendapat giliran berorasi. Ini kesempatan baginya untuk mengekspresikan suara politiknya di depan massa. Ia sudah membuat catatan-catatan penting. Ia ingin berbicara tentang rantai kemiskinan, penindasan, kesedihan dan kematian. Ia ingin mengajak massa untuk terus melawan dan menghancurkan segala belenggu penindasan dan ketidakadilan.

“Bangkitlah, Kawan...!” ucap Marni kepada bayangannya sendiri, di depan cermin. “Kau perempuan kuat. Bukankah kau ingin selalu menjadi ilalang indah yang menari-nari di depan massa? Perempuan buruh seperti kita harus segera mengemban tugas historisnya, Kawan...! Kau seorang sosialis, Marni. Bukankah Marx pernah bilang bahwa perubahan sosial yang besar tidak mungkin tanpa pemberontakan dari kaum perempuan?”

“Victoria Park, aku akan tetap menjadi ilalangmu!”
Bogor, Agustus 2012

http://www.militanindonesia.org/sastra/22-akhir/8332-victoria-park-cerpen.html

Posted on March 22, 2012



 


 
Aku sudah tiada
Tetapi masih teringat malam
Sebelum kepala
Dipisahkan dari tubuhku.

Di malam terakhir itu aku teringat sawah di kampung.
Aku, suami, dan anakku bersantap di saung,
Aisah, kata suami kepada anakku,
Ibumu akan ke Saudi,
Bekerja di sana;
Nanti Ibu akan pulang membawa rejeki
Dan kita akan membeli sawah ini
Yang lebih besar dari sawah kakek.
Anak itu tampak kegirangan
Sejak dulu ia senang
Duduk di saung.

Di malam terakhir
Aku terus berdzikir
Kuharapkan ada mukjizat
Menyelamatkan diriku.
Bayangan suami dan anakku
Berseliweran dalam benakku
Mengaduk-aduk perasaanku.

Ampun ya Allah
Siapkan hatiku
Ampun ya Allah
Siapkan jiwaku.

Terus aku berdzikir
Hingga tak ingat apa-apa lagi.

Dalam dzikirku malam terakhir itu
Terbayang suamiku datang ke kamarku
Dan dibisikkannya,

Aminah, betapa bangga aku padamu:
Kau berjuang untuk keluarga
Membela kehormatan diri.
Guru ngaji di pesantren
Tak akan menyalahkanmu.
Meski besok dipancung
Kau tetap hidup di hatiku
Dan di hati Aisah, anak kita itu.

Coba kupeluk bayangan suamiku
Bayangan anakku
Hangat terasa – aku tersenyum
Dan itu senyumku yang terakhir.

"Anto Erlangga Penuh Inpirasi"
oleh Odi Shalahuddin













Ibunda bukan sekedar hamil tua, tapi sudah melahirkan raksasa kembar lima. Panji-panji telah dikibarkan. Sorga telah diciptakan. Mimpi-mimpi, telah bisa dihadirkan. Masa depan telah direnggutkan. Menjadi sekarang!

Lihatlah gedung-gedung menjulang, jalan melayang-layang, jutaan kendaraan bersiweran, dengan berjuta iklan bertebaran, ditengah kehidupan orang-orang sibuk bukan sekedar mencari makan, melainkan biar bisa dianggap terpandang.


Tercipta kota-kota. Kota dalam kota. Desa kota. Kota dalam hutan. Gemuruh. Tanah-tanah menghilang. Semen dan aspal membuka jalan. 

Pohon-pohon ditumbangkan. Suara jengkerik, kodok, dan irama gesek bambu tinggal kenangan. 

Revolusi!
Hasil panen terjual semua. Tiada terpikir untuk tersimpan. Uang dihasilkan, menjadi alat untuk membeli makanan instans. Selebihnya membeli HP. Tiada peduli sinyal naik-turun. Tiada peduli diburu kebutuhan pulsa. Sambil menikmati saluran tv berwarna dengan channel beraneka, berisi selebritis dengan beragam gaya, dari menguras air mata, hingga membuat diri sesak dada, dengan sisi kehidupan pribadi yang semakin terbuka, menebas segenap batasan menjadi merdeka, kita terperosok dalam berjuta pesona.

Revolusi!
Negeri ini memang sangat kaya. Dongengan terus terdengar dan terbaca. Tapi, ingat,  bukan lagi kita si empunya. Sehingga senantiasa terhadirkan kata: “dulu…dulu…ya, dulu!”
Kini di negeri agraris, bahan makanan sudah impor. Beras, kedelai, kentang, gula, minyak goreng, dan berjajar sederetan yang “dulu” kita punya, kini harus dibeli dengan terpaksa.
Bibit-bibit-pun harus beli dengan hak paten bukan milik negeri. Bayangkan, di ladang minyak, BBM saja menjadi langka di pasaran. 

Revolusi!
Memang sudah maju ini negeri. Padahal belum tentu masih kita miliki. Seakan terpotong generasi, kebersamaan semakin dikebiri. Sebagai penjaga keseimbangan, maka dicipta harus saling berprasangka. Niat baik bisa menjadi bencana. Dikira berpura-pura, padahal mencari mangsa. 

Tak cukup. Dongengan teroris terus berlari. Sehingga tetangga sendiri, harus pula diwaspadai. 

Revolusi!
Kemana gema jiwa-jiwa merdeka? Yang “dulu” tak segan bergerak di bawah tanah, membangun mimpi melampaui batas bangsa dan negara, tak patah walau terhadang ancaman senjata.
Kini, bunuh diri kelas? Ah, kamu pasti bercanda.

Coretan lepas tak beraturan
Yogyakarta, 14 September 2012

Sierra Maestra











































14 Juni 1928
Rosario, Santa Fe, Argentina
Che Guevara
Meniti takdir sejarah
Bersekolah
Menghabiskan masa remaja
Bertualang ke liling Amerika Latin

Che Guevara
Membesarkan revolusi
Tuan-tuan tanah
Penguasa diktator
Di Guatemala
Di Bolivia
Di Cuba
Hapus dari sejarah keji


El Che
Tinggalkan semua
Kesenangan kaum priyayi
Harapan keluarga
Kesuksesan masa depan
Semua menjadi masa lalu

El Che
Mempersembahkan diri
Mengabdi kepada campesinos
Mengangkat senjata
Gerilya kota
Gerilya desa
Keluar masuk hutan
Satu keteguhan
Semua feudal
Semua penguasa keji
Semua imperialisme
Harus hancur
Lumat bersama debu!

Sierra Maestra
Dingin
Belukar belantara
Penyakit
Tak menghentikan langkah
Bergerilya
Kokang senjata
Satu keteguhan
Semua feudal
Sema penguasa keji
Semua kapitalisme
Semua komprador
Harus hancur
Lumat bersama debu
Hiduplah sosialisme!

Sierra Maestra
Penentu hidup mati
Bergerilya
Penuh disiplin
Sepenuh hati
Yakin menang
Kalahkan musuh di kandangnya
El Che tak berkompromi
Karena pemimpin harus demikian

Sierra Maestra
Penentu hidup dan mati
Bergerilya
Angkat senjata
Basmi comprador
Basmi imperialism
Basmi kapitalisme
Tegakkan sosialisme
Tegakkan komunisme!

Sierra Maestra
Jalan menuju Cuba
Tanah terakhir
Sosialisme jaya!
Komunisme jaya!
El Che diburu
Amerika geram
Che Guevara terkhianati
Teman sendiri

9 Oktober 1967
Di pertempuran gagah
El Che bertahan
Merah darahku kapitalisme!
Putih tulangku kapitalisme!
“Tak sejengkal tanah Cuba kuserahkan!”
“Tak setetes darah Cuba kuserahkan!”
Teruskan perjuangan
Teruskan perlawanan
Mati adalah cita-cita
Sekali kaki melangkah
Pantang surut kebelakang
Cuba jaya!
Sosialisme Jaya!
Komunisme hidup!


*tribute to Che Guevara, yang lahir 14 Juni 1928 dan dieksekusi CIA 9 Oktober 1967 di La Higuerra, Bolivia.
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”


“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”


“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hidup Persatuan Buruh